Esports World Cup (EWC) 2026 kembali membuktikan daya tariknya bagi penggemar fighting game. Pada turnamen Street Fighter 6, muncul nama baru yang langsung mencuri perhatian: Jaime “Craime” Bustos. Pemain muda asal Chile ini baru menginjak usia 15 tahun ketika berhasil menutup kompetisi dengan kemenangan di partai puncak yang digelar di Paris Expo Porte de Versailles.

Craime memastikan gelar juara setelah mengalahkan Hibiki dengan skor 5-2 pada Grand Final. Hasil tersebut memberinya hadiah utama sebesar US$250.000, sekaligus menempatkannya sebagai salah satu juara termuda dalam sejarah Esports World Cup. Selain meraih tonggak personal, kemenangan Craime juga menjadi pencapaian penting bagi Team Falcons karena menambah poin krusial dalam perebutan Club Championship.

Menaklukkan Nama-Nama Besar

Perjalanan Craime menuju tangga juara tidak datang dengan jalan mudah. Sepanjang turnamen, ia harus berhadapan dengan sejumlah pemain terbaik dunia. Di antaranya adalah dua mantan juara Evolution Championship Series (EVO), yaitu Saul Leonardo “MenaRD” Mena II dan Eisuke Yamaguchi. Keduanya datang sebagai favorit untuk merebut titel, namun Craime mampu merespons tekanan itu dengan cara yang efektif.

Yang membuat performa Craime menonjol adalah kemampuannya untuk beradaptasi. Ia dinarasikan mampu membaca pola permainan lawan dan menyesuaikan strateginya di setiap pertandingan. Konsistensi adaptasi tersebut membuat Craime menjadi salah satu pemain yang paling menarik untuk disimak selama Street Fighter 6 EWC 2026 berlangsung.

Grand Final: Pertahanan yang Disiplin

Di laga puncak, Craime kembali memperlihatkan kedewasaan bermain yang melampaui usianya. Melawan Hibiki, ia mengandalkan gameplan defensif yang disiplin, disertai kontrol jarak yang presisi. Selain itu, Craime juga memanfaatkan setiap kesalahan yang muncul dari pihak lawan.

Menurut laporan pertandingan, Craime beberapa kali berhasil memaksa Hibiki bermain di luar ritme terbaiknya. Ia juga memaksimalkan momen ketika Hibiki memasuki kondisi Burnout. Pendekatan tersebut terbukti efektif, hingga Grand Final berakhir dengan kemenangan meyakinkan 5-2 untuk Craime sekaligus memastikan trofi EWC pertamanya untuk Street Fighter 6.

Dampak untuk Chile dan Team Falcons

Kemenangan Craime juga disebut sebagai momen bersejarah bagi skena Street Fighter Chile. Tahun lalu, rekan sekaligus rivalnya, Derek “Blaz” Blaz, sempat berada di ambang meraih gelar Esports World Cup, namun gagal setelah terjadi reverse sweep pada partai final. Kali ini, Craime menyelesaikan misi yang sempat tertunda dan mengantarkan Chile meraih gelar bergengsi di panggung internasional.

Selain itu, hasil ini memberikan dampak besar terhadap Team Falcons dalam klasemen Esports World Cup Club Championship. Meski beberapa organisasi esports asal Jepang seperti REJECT, ZETA DIVISION, dan Saishunkan Sol Kumamoto juga meraih hasil positif di Street Fighter 6, gelar Craime memberikan 1.000 poin Club Championship untuk Team Falcons. Tambahan poin tersebut membuat organisasi asal Timur Tengah itu melonjak ke puncak klasemen sementara dan memastikan mereka memenuhi syarat untuk perebutan gelar Club Championship Esports World Cup 2026.

Dedikasi Craime

Usai pertandingan, Craime mendedikasikan kemenangan tersebut untuk semua pihak yang mendukung perjalanan kariernya. Ia mengatakan:

“Kemenangan ini bukan hanya untuk saya. Ini untuk semua orang di rumah yang telah membantu saya sampai di titik ini. Saya tidak sabar membawa pulang trofi ini dan membaginya bersama mereka,”

Dengan usia yang masih sangat muda dan gelar internasional bergengsi yang sudah diraih, Craime kini dipandang sebagai salah satu talenta paling menjanjikan di dunia Street Fighter. Kemenangan di Paris disebut bukan hanya menjadi awal karier yang gemilang bagi pemain asal Chile tersebut, tetapi juga bukti bahwa generasi baru siap mengambil alih panggung kompetitif fighting game dunia.