Jakarta, 28 Juli 2026 — Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) Irene Umar menerima audiensi Perkumpulan Olahraga Elektronik Indonesia (IESPA) dan Garudaku di kantor Kementerian Ekraf, Jakarta, pada Selasa (28/7). Pertemuan ini menjadi ruang untuk membahas peluang kolaborasi dalam memperkuat talenta sekaligus mengembangkan ekosistem industri esports nasional, bersama jajaran pengurus IESPA periode 2026–2031.
\n
Langkah Lanjutan Setelah Munas dan MoU
Audiensi tersebut disebut sebagai tindak lanjut dari sinergi antara Kementerian Ekraf dan IESPA pasca-Musyawarah Nasional (Munas) IESPA 2026 serta penandatanganan nota kesepahaman. Dengan kata lain, pertemuan ini bukan sekadar seremonial, melainkan upaya untuk menerjemahkan komitmen kelembagaan menjadi program yang lebih terarah bagi ekosistem esports Indonesia.
Harapan utama dari kolaborasi ini adalah mendorong industri esports agar memiliki daya saing yang lebih kuat di tingkat global. Dalam konteks industri kreatif yang terus berkembang, esports dipandang sebagai subsektor yang memiliki potensi besar, namun juga membutuhkan fondasi yang rapi agar bisa berkelanjutan dan kompetitif.
Esports Butuh Ekosistem Sehat dan Kolaborasi Lintas Pihak
Dalam pertemuan tersebut, Irene Umar menekankan bahwa industri esports di Indonesia memiliki peluang yang sangat besar, tetapi untuk bersaing di panggung internasional diperlukan ekosistem yang sehat. Ia menyoroti pentingnya memahami tantangan yang ada dan duduk bersama berbagai pemangku kepentingan, termasuk komunitas, publisher, serta pemerintah.
\n
"Industri esports memiliki potensi yang sangat besar di Indonesia. Namun, untuk bisa bersaing hingga ke panggung internasional, kita harus membangun ekosistem yang sehat dengan memahami tantangannya dan duduk bersama komunitas, publisher, serta pemerintah," ujar Irene.
Penekanan pada kolaborasi lintas pihak ini mengindikasikan bahwa penguatan esports tidak bisa hanya bergantung pada komunitas pemain atau penyelenggara turnamen. Agar ekosistem tumbuh, perlu ada keterpaduan standar, jalur karier, dan tata kelola yang menyatukan seluruh elemen dari hulu hingga hilir.
Standar Kompetensi dan Tata Kelola untuk Semua Profesi
Diskusi dalam audiensi juga menyentuh penguatan ekosistem esports dari sisi tata kelola, penyusunan standar kompetensi, hingga pengembangan sumber daya manusia (SDM) untuk berbagai profesi pendukung. Irene menegaskan bahwa sistem kompetensi yang terstandar menjadi kunci untuk meningkatkan kualitas SDM di industri esports.
Yang menarik, pembahasan tidak terbatas pada pro player, tetapi juga menyasar profesi pendukung seperti wasit, pelatih, caster, penyelenggara turnamen, hingga talenta lainnya. Fokus ini penting karena ekosistem esports yang matang biasanya ditopang oleh eksekusi pertandingan yang rapi, kualitas produksi yang konsisten, serta ekosistem pembinaan yang bisa menghasilkan talenta dalam berbagai peran.
\n
Sertifikasi sebagai Penyetaraan yang Sehat
Dalam bagian lain, Irene membahas bagaimana industri esports perlu diakui sebagai dunia kerja yang nyata. Ia menyoroti bahwa sertifikasi bisa menjadi salah satu bentuk penyetaraan, namun harus berfungsi dengan benar—bukan sekadar menjadi “pelumas” agar seseorang mudah mendapatkan pekerjaan.
"Kita harus membuat dunia tahu bahwa gamers dan orang-orang yang ada di dalam ekosistem esports adalah real jobs. Sertifikasi bisa menjadi salah satu bentuk penyetaraan, namun jangan sampai hanya dijadikan sebagai 'pelumas' untuk bisa mendapat kerja. Sertifikat harus berfungsi dengan benar dan menyehatkan ekosistemnya," jelas Irene.
Kalimat ini memberi sinyal bahwa sertifikasi diposisikan sebagai instrumen mutu, bukan sekadar formalitas. Jika standar kompetensinya tepat dan ekosistemnya sehat, sertifikasi berpotensi membantu memperjelas jalur karier dan meningkatkan kepercayaan publik terhadap profesionalisme esports.
IESPA Fokus SDM, Garudaku Dorong Jalur Talenta dari Sekolah hingga Kampus
Ketua Umum IESPA, Ibnu Sulistyo Riza, menyampaikan bahwa penguatan SDM menjadi salah satu fokus utama organisasi pada periode kepengurusan baru. Ia menekankan bahwa pembinaan yang terstruktur perlu menjangkau seluruh profesi dalam ekosistem esports agar standar kompetensi dapat diterapkan secara merata di berbagai daerah.
\n
"Sebagai subsektor ekonomi kreatif yang berkembang pesat, ke depan kami tidak bisa hanya memperhatikan pro player atau atlet, tetapi juga orang-orang di balik layar. Karena itu, kami ingin fokus pada pembinaan SDM serta menjembatani teman-teman di daerah agar seluruh ekosistemnya terstandardisasi," ujar Ibnu.
Sementara itu, Chief Operating Officer (COO) Garudaku, Robertus Aditya, memaparkan program pembinaan yang tengah dikembangkan untuk memperkuat jalur pengembangan talenta esports sejak usia sekolah hingga perguruan tinggi. Ia menilai pendekatan tersebut dapat membuka peluang karier yang lebih luas sekaligus mengubah persepsi masyarakat terhadap industri esports.
Robertus juga menyebut harapan agar stigma terhadap esports bisa diubah melalui program-program yang jelas, termasuk kegiatan ekstrakurikuler dan pembinaan. Ia mengatakan Garudaku telah bekerja sama dengan 13 universitas di Indonesia untuk memberikan beasiswa bagi para pemenang Liga Pelajar.
"Kami berharap dapat mengubah stigma terhadap esports melalui program-program yang jelas, seperti ekstrakurikuler dan program pembinaan, sehingga siswa memperoleh bekal yang dapat mendukung masa depan mereka. Kami juga telah bekerja sama dengan 13 universitas di Indonesia untuk memberikan beasiswa bagi para pemenang Liga Pelajar," ujar Robertus Aditya.
Ekosistem Lebih Profesional, Inklusif, dan Kompetitif
Secara keseluruhan, penjajakan kolaborasi ini diposisikan sebagai langkah awal menuju ekosistem esports yang lebih profesional, inklusif, dan berdaya saing. Dengan menyatukan agenda tata kelola, standar kompetensi, serta program pembinaan talenta dari berbagai jenjang, kolaborasi diharapkan bisa mempercepat lahirnya talenta kreatif dari berbagai daerah di Indonesia.
Lebih jauh, upaya tersebut juga diharapkan memperkuat kontribusi subsektor gim sebagai bagian dari “mesin baru” pertumbuhan ekonomi nasional—selaras dengan semangat penguatan ekraf dan pembinaan industri kreatif yang lebih terukur.
Catatan organisasi: IESPA disebut sebagai induk organisasi olahraga yang diakui pemerintah dan berperan dalam pembinaan serta pengembangan prestasi esports nasional, dengan fokus pengembangan ekosistem esport di Indonesia. Adapun Garudaku adalah platform resmi Pengurus Besar Esports Indonesia (PBESI) yang mendukung pengembangan ekosistem melalui basis data untuk program pembinaan talenta di bidang esport.

